Home » » SEJARAH ISLAM DI SINGAPURA

SEJARAH ISLAM DI SINGAPURA

Written By Zamri Al-fauzany on Kamis, 20 Desember 2012 | 03.17




PEMBAHASAN
A.    Islam Pada Awal Sejarah Singapura
Singapura merupakan salah satu  Negara terkecil di benua asia tenggara yang terdiri berbagai macam suku bangsa dan penganut berbagai macam agama. Penduduknya sekarang kira-kira mencapai 4.000.000 jiwa lebih hampir 77 persen warga Negara singapura adalah china dan minoritas adalah suku melayu, yaitu sekitar 17 persen dari jumlah keseluruhan warga Negara singapura. sedangkan sisanya disusul oleh india, Pakistan, dan arab.
Dalam perjalanan sejarahnya, singapura pernah menjadi salah satu pusat islam paling penting di asia tenggara, hal ini dilihat dari keunggulanya sebagai pintu masuk bagi para pedagang dari berbagai benua maupun Negara asing atau disebut dengan pusat perdagangan internasional. Selain sebagai pusat perdagangan, Negara ini sangat stategis bagi pusat informasi dan dakwah islami atau islamisasi kualitatif maupun kuntitatif, baik pada masa kesultanan malaka maupun sampai sekarang.
Jadi, Bagaimana proses masuknya islam di singapura? Dan abad ke berapa islam masuk ke singapura? Sejarah kehadiran agama Islam di Singapura tidak dapat dipisahkan dengan sejarah kedatangan Islam di Asia Tenggara pada umumnya, begitu pula   dari masa kemasa yang selalu berkaitan dengan perkembangan agama Islam diwilayah lainya. Pada sebagian ahli sejarah sudah hampir sepakat
bahwa agama Islam sudah sampai ke Asia Tenggara pada abad pertama Hijriah atau pada akhir abad ke-7 Masehi, karena pada abad itu pedagang-pedagang Arab atau pedagang Muslim India sudah mengadakan perdagangan sampai keselat Malaka dan ke Cina, sebagian ada yang singgah di Sumatera dan Jawa. Kemudian jalur perdagangan itu menjadi rute tetap pada pedagang Arab dan India yang menjulur dari laut Tengah melalui Persia dan India ke Asia Tenggara dan terus ke Tiongkok
.Namun untuk menentukan dengan pasti kapan sesungguhnya awal kehadiran agama Islam, dimana dimulai, kemana penyebarannya, siapa penyebarnya, dan bagaimana metode pengajarannya adalah suatu pekerjaan yang tidak mudah, karena
sulit menentukan bukti yang dapat dipercaya kebenarannya. Singapura sendiri mempunyai peranan penting dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara. Posisi stategis yang merupakan nilai lebih Singapura menjadikannya sebagai transit bagi perdagangan dari berbagai kawasan. Pada sisi lain, selain sebagai transit perdagangan letaknya yang strategis ini juga telah memungkinkannya menjadi pusat informasi dan komunikasi dakwah Islam, karena secara geografis Singapura hanyalah salah satu pulau kecil yang terdapat di tanah Semenanjun Melayu.
Singapura menjadi sebuah Negara Republik yang merdeka setelah melepaskan diri dari Malaysia. Saat ini, Singapura merupakan Negara paling maju diantara Negara-negara tetangganya di kawasan Asia Tenggara. Namun demikian, Islam relative tidak berkembang di Negara ini, baik bila dibandingkan dengan sejarah masa lalunya, maupun bila dibandingkan dengan perkembangan Islam di Negara-negara lainnya di kawasan Asia Tenggara. Pada tahun 1940-1950 orang islam boleh kawin dan bercerai deengan mudah melalui beberapa kodi yang bergerak dari satu tepat ke tempat yang lain. Ketidak teraturan ini di pergunakan dengan salah guna. Ada kodi yang kurang teliti dalam segi taraf perkawinan dengan hasrat wali mereka yang sah. Perceraian juga diperbolehkan dengan senang.[1]
            Dalam hal ini imam-imam atau guru-guru sangat berpengaruh terutama dalam praktek agama, realitas upacara-upacara sosial ke agamaan dengan berbagai macam Negara yang datang  ke Singapura membawa banyak agama dan keperrcayaan.[2]
Namun pemerintah dalam hal ini bersifat netral , untuk meyakinkan kaum muslimin bahwa pemerintah memegang prinsip kebebasan dalam beragama dan melindungi keyakinan mereka, maka MUIS (Majelis Ulama Islam Singapura ) didirikan di bawah perundang-undangan dan ketentuan AMLA (Administration Of Muslim Law Act OF 1966 ). MUIS bertanggung jawab dalam mengatur administrasi hokum islam di Singapura, termasuk mengumpulkan zakat mall, pengaturan perjanjian haji, setipikasi halal, aktifitas dakwah, mengorganisasi sekolah-sekolah agama, mengorganisa pembangunan mesjid dan manajerialnya, pemberian bantuan biayasiswapelajar muslim, bbertugas mengeluarkan patwa agama. Keta dan MUIS di angkat dan di berhentikan oleh Presiden, melalui usulan dari kelompok muslim.[3]
            Dalam bidang pendidikan singapura menganut  sistem pendidikan islam moderen dari awal hingga sekarang merujuk pada system mesir dan barat sepeti madrasah, sekolah arab atau sekolah agama, tetapi tidak mengenal pondok pesantren. Ada 4 madrasah terbesar di singapura yaitu:
a)       Madrasah Aljunied, didirikan pada tahun 1927 M, oleh pangeran Syarif   al-Syaid Umar bin Ali Aljuneid dari palembang.
b)          Madrasah Al-Ma’arif, didirikan pada tahun 1940-an gurunya dari  lulusan al-Azhar Mesir.
c)           Madrasah Wak Tajung AL- Islamiyah , didirikan tahun 1955 M.
d)     Madrasah AL-Sagoff, didirikan pada tahun 1912 di atas tanah wakaf Syed Muhammad bin Syed  al- Sagoff.
Ada juga pengembangan dalam masyarakatnya,di antara badan-badan yang menyediakan berbagai pelayanan  MENDAKI (Majelis Perkembangan Masyaraka Islam Singapura ), muncul sebagai organisasi utama, dengan berbagai kegiatan yang menyeluruh , dan pendidikan kepada ekonomi. MENDAKI menerima dukungan dan bantuan keuangan dari pemerintah. Badan ini di tumbuhkan pada tahun 1981 atas usaha ahli-ahli parlemen Melayu-islam untuk mengatasi kemerosotan orang Melayu, seperti yang di perliatkan pada tahun 1980. dalam tujuh tahun pertama, mendaki sangat perhatian terhadap soal pendidikan. Ia mengadakan kelas bimbingan setiap menggu dan nasehat kepada pelajar dan kkeluaga mereka. MENDAKI tidak perlu berjaya, kelembapannya kaadang-kadang mejadi kritikan.
            Pada tahun 1989, satu seminar diadakan di dewan persidangan singapura, untuk memutar haluan baru bagi MENDAKI. Perlu ada komitmen sepenuhnya dan usaha. Dengan komitmen sepenuhnya orang melayu yang kaya atau yang punya kekayaan untuk membantu saudaranya yang kurang mampu,komitmen dukungan masyarakat terhadap rancangan MENDAKI, komitmen pemerintah sebagai bukti anda mau bekerja sama mencapai aspirasi masyarakat anda.” Para peserta seminar dari berbagai masyarakat islam setuju dengan beliau. Mereka menyokong MENDAKI agar meluaskan kegiatan serta menyususn semula rancangan-rancangannya dengaan menawarkan lebih banyak program pedidikan. Di sampang mengajukan kegiatan sosial dan ekonomi. “ sebagian keberhasilan orang melayu-islam dalam pendidikan adalah di sebabkan oleh Mendaki. Program terkemuka adalah bimbingan pada akhir minggu. Kelas-kelas utamanya semula pada Februari 1980 degnan 60 orang pelajar kelas “A”, menghadiri kelas setiap hari Ahad di mesjid AL-Anshar di Chai Chee dan mesjid Al-muttaqin di Ang Mo Kio.
            MENDAKI mengendalikan lebih dari 10.000 orang pelajar di 14 pusat. Rata-rata berumaur sekitar sembilan hingga delapan belas tahun. Para pelajar manghabiskan petang sabtu atau pagi ahad mendalami pelajaran yang di peroleh dari sekolah. Ada juga program-program khusus, seperti kelas matematik lanjutan dan kelas bahasa inggrais yang intensif untuk pelajar yang sederhana kebolehannya. Dua lagi projek utama merupakan bagian dari strategi pengayaan untuk semua MENDAKI, yaitu untuk pelajar pandai dan untuk pelajar yang pencapaiannya di bawah standar.
            Kegiatan lain MENDAKI adalahn kelas-kelas computer, ceramah tentang orang tua yang baik, bengkel membaca, kemah-kemah cuti sekolah, anugrah dan beayasiswa. Dia juga memberi pinjaman tampa angsuran. Bagi pihak pemerintah, MENDAKI menguruskan subsidi iyuran pendidikan tinggi bagi orang melayu, satu proyek yang membolehkan orang melayu yang membolehkan pendidikan gratis di peringkat perguruan tinggi.[4]
            Proyek utama MENDAKI dalam bidang sosial dan kebajikan adalah mendirikan pusat pelayanan keluaga dengan kerjasama persatuan pemudi islam singapura (PPIS). Dalam bidang ekonomi, MENDAKI mencatat perkembangan besar mmelalui amanah salam mendaki (ASM), sebuah tabung bagi masayarakat islam. MENDAKI juga telah memasuki bidang memberi latihan kepada pekerja islam dan kepada pekerja sama denga Lembaagi Penghasil Negara (NPB) Untuk tujuan ini. Para penyokong mendaki sadar bahwa banyak banyak keberhasilan yang telah di capai. Yang lain juga merasa banyak lagi yang bileh di lakukan. berawal perdebatan ini, lahir sebuah badan yang hampirsama tujuannya yaitu angkatan kariawan islam (AMP). Parapenggerak uatamanya iyalah sekumpualan kariawan islam yang muda bekas pemimpin pelajar yang aktif takkala di uni versitas dulu. Setelah memantapkan kerja dan keluarga masing-masing, mereka merasa masyarakat memerlukan komitmen mereka.
            Kerap di anggap pesaing MENDAKI, AMP dengan segera menyiapkan pelbagai rancangan dari pada bersipat pendidikan kepada kauseling untuk keluarga serta individu dan program-program latihan bagi para pekerja. Pada awal tahun 1994, AMP mendirikan pusat latihan untuk meningkatkan kemahiran pekerja melayu islam. Dan kemajuan kemahiran pemerintah telah menyumbang lebih $2 juta dalam usia ini. Dalam masa tiga tahun akan datang kira-kira 6,600 orang pekerja islam akan menjalani latihan. AMP juga giat dalam usaha niaga, ia mendirikan sarikat pemegangan untuk kegiatan perdagangan dan pembangunan di rantau ini. Sebuah lagi badan melayu sosial islam ialah taman bacaan pemuda pemudi melayu singapura,didirikan tahun 1959 untuk memupuk minat terhadap kesastraan dengan meminjamkan jurnal dan buku kepadaahli-ahlinya. Beberapa tahun kemudian taman bacaan bertukar peranan untuk memenuhi kepeluan masyarakat. Ia mulai mengendalikan bengkel untuk ibu bapak dan pelajar seta rancangan-rancangan pendidikan termasuk aspek-aspek kemahiran,keibubapaan, pengurusan waktu dan kelas-kelas bahasa.
            Sebuah lgi badan berusia tiga abad ialah Lembaga Biayasiswa Kenangan Maulud (LBKM). Pada tahun 1965, beberapa minggu selepas singpura merdeka pada tanggal 9 Agustus, perwakilan 77 pertumbuhan Melayu-Islam menghadiri perhimpunan di Dewan Peringatan Victoria untuk melancarkan LBKM. Dengan LBKM mulai usaha mendirikan lembaga bagi pembantu para pelajar islam yang berpontensi untuk melannjutkan pelajaran tampa terhambat oleh biaya.
            Lebih kurang setahun kemudian , lembaga itu mempunyai uang yang cukup untuk menawarkan biaya siswa kepada 18 orang pelajar. Lembaga ini juga mengeluarka bantuan penyelidikan dan dua kali setahun mengadakan cerama-ceramah peringatan oleh sarjans-sarjana islam terkenal. Badan islam yang lebih mudah ialah Pertapis (Persatuan Taman Pengajian Islam Singapura ) yang memberikan perhatian kepada kebajikan masyarakat dan pendidikan. Pertapis juga mengendalikan rumah-rumah orang tua, rumah kanak-kanak dan pusat bagi wanita dan kanak-kanak. Di samping kursus pendidikan. Badan ini juga memepunyai beberapa cabang di Singapura.
            Bagi kebanyakan orang islam, lorong 12 sama artinya dengan Jamiyah.yang beribu pejabat di situ. Jamiyah (Persatuan Seluruh Islam Singapura) mempunyai sejarah kegiatan dakwah dan sosial yang lama. Pada awalnya, Jamiyah hany mengasuh kelas-kalas agama, bukan hanya untuk anggota masyarakat tetapi juga angota pasien di houspital dan di penjara. Badan ini juga membantu mengislamkan orang bukan islam sambil mengadakan ceramah oleh para sarjana-sarjana islam setepat atau antar bangsa.
            Tidak jauh dari Jamiyah, di Haigsville Drive, ialah persatuan Pemuda Islam Singapura (PPIS). PPIS yang juga muncul dan berkembang dari kesadaran sekumpulan kecil umat islam didirikan oleh beberapa orang wanita yang belatar belakang dan dari kumpulan etnik yang berbeda.Terbentuk pada tahun 1952, PPIS mendapat perhatian ahli-ahlinya, memberi pandangan kepada jawatan yang bersidang tetang akta pelayanan hukum islam (AMLA) pada tahun 1966. PPIS mengesakan jawatan itu supaya menaikan umur minimum perkawinan islam dari yang di canangkan 15 tahun sampai 18 tahun, selaras dengan piagam wanita Singapura. Jawatan tersebut musyawarah baru dengan menetapkannya 16 tahun.
            Satu lagi pertumbuhan ialah Muhammadiyah yang didirikan pada tahun 1957 oleh sekumpulan pelajar yang memanggil diri mereka Ahlul Sunnah Wal-jamaah. Bermula dengan kelas-kelas agama, kegiatan badan ini telah berkembang ke bidang-bidang lain termasuk taman kanak-kanak dan madrasah. Turut memberi sumbangan adalah Darul Arqam (Persatuan Muallaf Singapura), mengambil nama sempena dengan nama Arqam, sahabat nabi saw Yang memberi perlindungan ke pada pemeluk baru agama islam. Belakangan ini, Darul Arqam gigih berusaha untuk mengajak orang islam dan juga bukan islam berdakwah. Ia ingin islam di lihat sebagai agama bukan saja orang melayu, tetapi untuk semua bangsa.
            Darul Arqan telah membawa islam ke dunia antar bangsa melalui pertukaran antar kebudayaan denagn orang islam di seluruh dunia. Tokoh-tokoh islam terkemuka kerap di undang untuk menyampaikan ceramah-ceramah umum dan berbincang dengan ahli-ahlinya. Ia juga berhubungan rapat dengan banyak badan islam antar bangsa, termasuk perhimpunan  Belia Islam Sedunia.
             Sebuah lagi pertumbuhan agama ialah Persatuan Tabung Amanah Muslimin (MTFA) yang menguruskan rumah anak-anak yatim Darul Ihsan Lilbanin untuk budak laki-laki, dan Darul Ihsan Libanat untuk budak perempuan. Anak-anak yatim yang tidak tinggal di rumah-rumah tersebut juga boleh memohon bantuan keuangan atau pendidikan dari MTFA, pada tahun 1993, MTFA memberi $75,000 dalam betuk bantuann pendidikan. Dengan di capainya hal tersebut maka menjadikan masyarakat Singapura mendapat tempat tinggal yang lebih baik.
Sejarah kehadiran agama Islam di Singapura tidak dapat dipisahkan dengan sejarah kedatangan Islam di Asia Tenggara pada umumnya, begitu pula sejarah perkembangan dari masa kemasa yang selalu berkaitan dengan perkembangan agama Islam diwilayah lainya. Pada sebagian ahli sejarah sudah hampir sepakat bahwa agama Islam sudah sampai ke Asia Tenggara pada abad pertama Hijriah atau pada akhir abad ke-7 Masehi, karena pada abad itu pedagang-pedagang Arab atau pedagang Muslim India sudah mengadakan perdagangan sampai keselat Malaka dan ke Cina, sebagian ada yang singgah di Sumatera dan Jawa. Kemudian jalur perdagangan itu menjadi rute tetap pada pedagang Arab dan India yang menjulur dari laut Tengah melalui Persia dan India ke Asia Tenggara dan terus ke Tiongkok.[5] Namun untuk menentukan dengan pasti kapan sesungguhnya awal kehadiran agama Islam, dimana dimulai, kemana penyebarannya, siapa penyebarnya, dan bagaimana metode pengajarannya adalah suatu pekerjaan yang tidak mudah, karena
sulit menentukan bukti yang dapat dipercaya kebenarannya. Singapura sendiri mempunyai peranan penting dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara. Posisi stategis yang merupakan nilai lebih Singapura menjadikannya sebagai transit bagi perdagangan dari berbagai kawasan. Pada sisi lain, selain sebagai transit perdagangan letaknya yang strategis ini juga telah memungkinkannya menjadi pusat informasi dan komunikasi dakwah Islam, karena secara geografis Singapura hanyalah salah satu pulau kecil yang terdapat di tanah Semenanjung Melayu.
Singapura menjadi sebuah Negara Republik yang merdeka setelah melepaskan diri dari Malaysia pada tanggal 17 Agustus 1965. Saat ini, Singapura merupakan Negara paling maju diantara Negara-negara tetangganya di kawasan Asia Tenggara. Namun demikian, Islam relative tidak berkembang di Negara ini, baik bila dibandingkan dengan sejarah masa lalunya, maupun bila dibandingkan dengan perkembangan Islam di Negara-negara lainnya di kawasan Asia Tenggara.[6] Sejak abad ke-15, pedagang Muslim menjadi unsur penting dalam perniagaan wilayah Timur, tidak terkecuali Singapura. Beberapa diantara para pedagang ada yang menetap, dan menjalin hubungan perkawinan dengan penduduk setempat. Lama-kelamaan mereka membentuk suatu komunitas tersendiri. Para pedagang tersebut tidak jarang menjadi guru agama dan imam. Dalam komunitas Muslim ini juga sudah terdapat sistem pendidikan agama yang bersifat tradisional. Pada umumnya mereka belajar agama dirumah-rumah, yang kemudian dilanjutkan di surau-surau dan mesjid. Pada tahun 1800 di kampong Glam dan kawasan Rocor menjadi pusat pendidikan tradisional. Dalam hal ini, guru-guru dan imam sangat penting peranannya dalam memupuk penghayatan keagamaan pada masyarakat Muslim Singapura. Sama dengan Muslim di kawasan Asia Tenggara lainnya, Muslim di Singapura pada masa awal menganut mazhab Syafi'I dan berpaham teologi Asy'ariyah.
B.     Perkembangan Islam di Negara singapura
Sebagai Negara yang berdiri setelah perang dunia II singapura meurpakan Negara paling Maju di kawasan Asia Tenggara. Singapura memiliki Ekonomi atau Prekonomian Pasar yang sangat maju, yang secara historis berputar di sekitar perdagangan Interpot Bersama Hong Kong, Korea Selatan dan Taiwan, Singapura adalah satu dari Macan Asia . Ekonominya sangat bergantung pada ekspor dan pengolahan barang impor, khususnya di bidang manufaktur yang mewakili 26% PDB Singapura tahun 2005 dan meliputi sector elektronik, pengolahan minyak Bumi, bahan kimia, teknik mekanik dan ilmu biomedis. Tahun 2006, Singapura memproduksi sekitar 10% keluaran Waferwafer dunia. Singapura memiliki salah satu dari pelabuhan tersibuk di Dunia dan merupakan pusat pertukaran mata uang asing terbesar keempat di dunia setelah London, New York dan Tokyo. Bank Dunia menempatkan Singapura pada peringkat hub logistik teratas dunia.9 Namun demikian ditengah kemajuan Singapura sebagai sebuah negara yang menjadi sentral perdaganagan Asia Tenggara dan memiliki perjalanan panjang mengenai perjumpaan dengan Islam. Singapura merupakan neagara yang memiliki penduduk Muslim yang Minoritas. Dengan jumlah penduduk sekitar 4,99 Juta jiwa hanya sekitar 14.9 % saja yang memeluk agama Islam. Dan menjadi agama kedua terbesar setelah Buddha 42,9% di ikuti oleh Ateis 14.8 %, Kristen 14.6%, Taouisme 8% dan Hinddu 4% serta agama lainnya 0.6%.[7]
            Wajah Islam di Singapura tidak jauh beda dari wajah muslim di negeri jirannya, Malaysia. Banyak kesamaan, baik dalam praktek ibadah maupun dalam kultur kehidupan sehari-hari. Barangkali hal ini dipengaruhi oleh sisa warisan Malaysia, ketika Negara kecil itu resmi pisah dari induknya, Malaysia, pada tahun 1965.
Hal ini jika di urut melalui sejarahnya, keberadaan Islam di Singapura tak lepas dari keberdaan Etnis Melayu yang mendiami pulau tersebut. Ditambah dengan golongan lain yang dikatagorikan sebagai Migran Muslim. Mereka inilah, terutama migranArab, sebagai penyandang dana utama dalam pembangunan masjid masjid, lembaga lembaga pendidikan dan organisasiorganisasi Islam.[8] Sejak pertengahan abad ke19, ketika Belanda melakukan tindakan represif dan pembatasan atas calon haji Indonesia, Singapura menjadi alternatif mereka sebagai tempat pemberangkatan. Brokerbroker perjalan ibadah haji ini adalah kalangan migran Arab. Berbeda dengan Muslim imigran, masyarakat Melayu merupakan mayoritas. Mengikuti pembagian Sharon Siddique, mungkin karena mayoritas migran yang berasal dari dalam wilayah (Jawa, Sumatera, Riau dan Sulawesi.
            Cenderung membawa isteri dan anak mereka. Dengan demikian rasioseks (khususnya pada komponen mayoritas yang berbahasa Melayu) lebih seimbang dibanding komunitaskomunitas lain. Kenyataan yang demikian berakibat pada kelambatan terjadinya asimilasi kemelayuan. Kelompok migran biasanya mendiami kampung-kampung yang ditata berdasarkan tempat asal. Dan ini berakibat pada menguatnya bahasabahasa etnis dan adat istiadat. Dengan demikian, karena heteroginitas penduduk Muslim Singapura, orang bukan mendapatkan “suatu” komunitas Muslim, namum sejumlah komunitas Muslim. Hal ini diperkuat dari dalam dengan pelestarian batasbatas linguistik, tempat tinggal yang berorientasi tempat asal, spesialisasi pekerjaan, status ekonomi dan berbagai tingkat pendidikan.
            Bersamaan dengan itu, gejala yang terjadi pada migran luar wilayah (Arab
dan India) memiliki kecenderungan terbalik. Migrasi yang mereka lakukan hampir secara eksklusif hanya dilakukan oleh kaum pria. Dengan mengawini wanitaMuslim Melayu, berarti mereka membangun keluarga keluarga baru di Singapura. Hal ini selanjutnya memberikan definisi komunitas baru Arab dan Muslim India yang, melalui garis patrilineal memberi identitas pada diri mereka sendiri, namun menurut garis matrilineal adalah keturunan pribumi. Proses ini melahirkan suatu komunitas ArabMelayu dan Jawi Peranakan yang mulai mengidentifikasi diri dengan bahasa Melayu dan dengan adat istiadat serta kebiasaan local.[9]
C.     Lembaga dan Aktivitas Keagamaan Islam di Singapura
Pembentukan kelembagaan keagamaan pertama bermula sejak 1880, ketika dibentuk jabatan Qadi (Hakim Agama), yang didasarkan pada Ordonansi Perkawinan Pengikut Muhammad. Selanjutnya masalah-masalah yang muncul  dikalangan internal umat Islam atau dengan umat agama lain diurus oleh Moslems and Hindu Endowment Board, pada tahun 1906. Anehnya sampai dengan tahun 1948 tidak seorang muslim pun bekerja dilembaga ini. Sampai dibubarkan pada tahun 1968, dewan ini terdiri dari: pengacara umum, tiga orang wakil umat Islam, tiga wakil umat Hindu, satu Persia, dan bendahara umum yang juga bertugas sebagai sekretaris dewan.

Oleh karena posisi Singapura sebagai transit pemberangkatan dan kedatangan jama’ah Haji di seluruh Nusantara, pemerintah Inggris kemudian mengatur dan mengambil keuntungan ekonomi dari pengaturan perjalanan Haji sejak tahun 1889, dan pada tahun 1905 mengadakan “Ordonasi” Pengawasan Agen Perantara Perjalanan Haji”. Kemudian pada tahun 1915, untuk mengurus masalah sosial keagamaan masyarakat muslim Singapura, dibentuk Lembaga Penasihat Orang-orang Islam. Lembaga ini bertugas dan berwenang megurus dan menyelesaikan masalah perkawinan, penentuan awal puasa dan hari raya, memberikan pertimbangan pada pemerintah Inggris. Semula lembaga ini dipimpin oleh orang Inggris, dengan beberapa anggota orang Islam, tetapi kemudian secara bertahap mulai tahun 1928 lembaga ini dipimpin oleh seorang muslim, yakni Hafizuddin S. Moonshi. Penetapan dan hak mengeluarkan fatwa pada mulanya hanya oleh Mufti Besar kerjaan Johor dan didampingi oleh QadiSingapura. Akan tetapi, untuk kemudian dipegang sendiri oleh Mufti Singapura, yang mengepalai komisi fatwa (fatwa comtte) secara kolektif.

Pada tahun 1968, pemerintahan Singapura membentuk lembaga Majelis Ugama Islam Singapura (MUIS) yang dibentuk berdasarkan “ Akta Pentadbiran Hukum Islam 1966 (AMLA)” pada bulan Agustus tahun 1966. MUIS yang terdiri dari seorang ketua dan 7 orang anggota, tugas utamanya adalah untuk menasehati presiden Singapura mengenai hal ehwal Islam.

Selain MUIS, ada pula lembaga yang khusus bergerak dalam bidang pendidikan yaitu Majelis Pendidikan Anak-anak Muslim (MENDAKI). Dan adapula lembaga DANAMIS yaitu Dana Perwalian Muslim yang bergerak dalam bidang pendanaan sosial ekonomi umat, semacam koperasi dan lembaga keuangan non-pemerintah. Lembaga berikutnya adalah Himpunan Dakwah Islam Singapura (JAMIYAH) dan Association of Muslim Profesionals (AMP) yang didirikan pada bulan Oktober 1991, lembaga ini berkeinginan untuk mewujudkan masyarakat muslim Singapura yang siap bersaing secara terhormat untuk memasuki masa depan yang lebih baik.
D.      Posisi Masyarakat Islam di Singapura Dewasa Ini
Menyadari ketertinggalan mereka, pemerintah dan tokoh-tokoh Islam mengadakan berbagai upaya peningkatan dalam berbagai aspek. Misalnya didirikannya beberapa masjid-masjid baru di berbagai kompleks perumahan baru, selain itu banyak pula didirikan lembaga-lembaga oleh pemerintah seperti lembaga pendidikan bagi anak-anak islam, yang disebut MENDAKI dan beberapa lembaga sosial masyarakat lainnya.

Upaya pemerintah dan para tokoh muslim ini, akhirnya berdampak positif bagi masyarakat muslim Singapura yang pada awalnya mengalami ketertinggalan. Misalnya pada tahun 1990 masyarakat muslim Singapura sudah banyak yang berpendidikan formal, seperti SD, SMP, SMA bahkan adapula yang bersekolah sampai perguruan tinggi sampai mereka mendapatkan gelar Ph.D.




    KESIMPULAN
Setelah Singapura memisahkan diri dengan Malaysia, masyarakat muslim di Singapura menjadi minoritas. Dalam bidang politik, masyarakat Melayu menyadari posisinya yang minoritas, sehingga mereka mengambil garis moderat, loyal, dan partisipatif. Namun kecurigaan dan memandang rendah pada etnis Melayu atau masyarakat muslim Melayu kadang-kadang juga muncul. Menyadari ketertinggalannya tersebut, pemerintah dan tokoh-tokoh Islam mengadakan berbagai upaya peningkatan dalam berbagai aspek.
Pada tahap awal proses Islamisasi, Islam diidentikkan dengan agamanya orang Melayu. Dalam hal ini karena Islam menjadi agama yang dianut oleh sultan di Malaka, yang juga pernah singgah di Singapura ketika lari dari Palembang, dan kemudian mendirikan kesultanan Malaka dan menjadi Muslim. Identifikasi Melayu
dan Sultan ini memberikan kemungkinan awal dari perkembangan Islam di Singapura. Sekalipun demikian, dalam beberapa abad kemudian (kurang lebih 4 abad), Singapura menjadi daerah yang tidak bertuan. Dan penghuni pulau Singapura adalah para perompak laut.
Pada tahap kedua, proses Islamisasi terjadi terutama setelah Singapura menjadi pilihan Raffles sebagai basis perdagangan Inggris di belahan timur. Singapura kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan yang menarik minat Muslim Melayu di sekitarnya dan juga pedagang-pedagang Muslim Arab dan India untuk bermigran ke Singapura. Sejak itulah, awal abad 19, proses pembentukan peradaban Islam di Singapura berlangsung sampai sekarang. Dengan dimotori oleh migran Arab dan India, juga dukungan Muslim Melayu, Islam berkembang di Singapura membangun citra dirinya. Seiring dengan perjalan sejarahnya, komunitas Muslim memainkan peran dalam perkembangan pembaharuan Islam di kawasan Asia Tenggara. Tercatat penerbitan majalah dan buku yang memiliki muatan refomis dipublikasikan dari Singapura. Bersamaan dengan itu, untuk memenuhi kebutuhan dalam melaksanakan ajaran Islam, Muslim Singapura telah mendapatkan perhatian dari pemerintahdengan sejumlah kelembagaan Muslimnya, yang dewasa ini kita kenal seperti AMLA dan MUIS. Di bawah MUIS itulah dikoordinasikan berbagai kelembagaan yang menunjang kelangsungan kehidupan umat Islam Singapura. Sebagai kelompok minoritas, tentu ada pilihan-pilihan nyata yang dihadapi Muslim Singapura. Dalam hal ini nampaknya umat Islam Singapura lebih mengambil sikap dan pilihan yang adaptasionis dan kerjasama ketimbang melepaskan diri dari ikatan nasional Singapura.


DARTAR PUSTAKA
Abdullah, Taufik dan Sharon Siddique (ed.). Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara. Terj. Rochman Achwan. Jakarta: LP3ES,1988      
Abd. Ghopur, Handout Mata Kuliah Study Islam Asia Tenggara
Asmal May dan Aripudin,  Handoud Mata Kuliah Sejarah Islam Asia Tenggara
Munzir Hitami, Sejarah Islam Asia Tenggara, (Pekanbaru: Alaf Riau, 2006)
Suhaimi, M.Ag, Sejarah Islam Asia Tenggara, Unri Press, Cetakan Kedua, 2010,
Suhaimi, Cahaya Islam Di Ufuk Asia Tenggara, Pekanbaaru, Suska Perss UIN Suska Riau, 2008 
Taufiq abdullah(Ed.), Islam Di-Indonesia, Tinta Mas Jakarta, 1974
http://id.wikipedia.org/wiki/Singapura, 15/05/2012,13:34 WIB.






[1] Suhaimi, Cahaya Islam Di Ufuk Asia Tenggara, Pekanbaaru, Suska Perss UIN Suska Riau, 2008, hlm 172
[2] Asmal May dan Aripudin,  Handoud Mata Kuliah Sejarah Islam Asia Tenggara
[3] Abd. Ghopur, Handout Mata Kuliah Study Islam Asia Tenggara
[4] Suhaimi, op. cit, hlm 222
[5] Taufiq abdullah(Ed.), Islam Di-Indonesia, Tinta Mas Jakarta, 1974, hal 118.
[6] Sejarah Islam Asia Tenggara, Drs. H. Suhaimi, M.Ag, Unri Press, Cetakan Kedua, 2010,
Pekanbaru.
[7] Munzir Hitami, Sejarah Islam Asia Tenggara, (Pekanbaru: Alaf Riau, 2006), hlm. 32.

[8] http://id.wikipedia.org/wiki/Singapura, 15/05/2012,13:34 WIB.
[9] Abdullah, Taufik dan Sharon Siddique (ed.). Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara. Terj. Rochman Achwan. Jakarta: LP3ES,1988.hlm. 390.

2 komentar:

Template Information